Jumat, 29 Maret 2013

Pulau Untung Jawa - Kepulauan Seribu


Adalah salah satu pulau yang yang masuk dalam daerah administrasi Kepulauan Seribu provinsi DKI Jakarta yang berpenghuni dan termasuk daerah wisata pulau yang terdekat untuk warga ibukota Jakarta dan kota Tangerang karena akomodasinya yang mudah dan dengan harga yang terjangkau.

Untuk menuju pulau untung jawa kita bisa menyeberang dari tanjung pasir jika tempat tinggal di sekitar Tangerang seperti saya. Untuk akses ke tanjung pasir jika menggunakan kendaraan pribadi sangat mudah tetapi jika menggunakan transportasi umum jam operasi kendaraan terbatas.

Pulau untung jawa sangat ramai pengunjung pas tahun baru atau libur panjang karena banyak warga yang ingin menikmati pantai yang bersih dengan pasir putih. Seperti kebanyakan obyek wisata di Indonesia kendala terbesar dari majunya pariwisata adalah banyaknya sampah dan kurang sadarnya warga sekitar dan pengunjung untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Ini adalah kali kedua saya ke pulau untung jawa, pada saat yang pertama pantai berpasir masih banyak tetapi sekarang hanya sedikit karena sudah banyak pembangunan di pesisir pantai. Dan untuk jenis pasirnya berbeda dengan yang sekarang karena warnanya sudah tidak seputih ketika pertama kali saya datang. Dan jika ingin bermain di pasir kita harus bersihin dulu areanya karena banyak sampah, terutama sampah dari pembungkus makanan yang di jual oleh warga dan ada juga sampah pecahan gelas yang sangat membahayakan karena kaki teman saya terluka terkena pecahan gelas tersebut ketika sedang berenang. Itu adalah kenangan pertama kali datang ke Pulau Untung Jawa.

Dalam hal akomodasi di pulau tersebut banyak disewakan penginapan dengan harga yang terjangkau. Sama seperti halnya pertama kali bersama teman saya tidak menginap di pulau. Yang keduapun dengan keluarga datang pagi dan pulang sore.

Yang kedua kalinya ini saya ke pulau bersama keluarga karena di traktir oleh kakak yang sedang ulang tahun sehingga kami sekeluarga liburan gratis tetapi jika ingin beli oleh-oleh beli pakai uang sendiri. Hehehe. Liburan bersama keluarga sangat berarti karena disinilah terlihat keakraban dari anggota keluarga yang lain meskipun beda pendapat tetap ada jika mau jalan-jalan.

Di setiap liburan,saya pasti akan memisah dari kelompok untuk beberapa saat seperti halnya liburan dengan keluarga karena menikmati pantai sendiri seperti berteman dengan angin dan suara ombak. Jika sudah puas menyediri saya pasti akan berkumpul dengan keluarga yang lain untuk menikmati suasana pantai dan bermain dengan keponakan. Ada beberapa permainan yang disediakan oleh pelaku pariwisata disana seperti banana boat.

Setelah puas bermain di pantai kami pulang karena sudah janji sama pemilik kapal untuk di jemput jam 5 sore di dermaga. Setiap kapal penumpang pasti akan menawarkan jasa antar jemput supaya mempermudah wisatawan. Pulang di jam tersebut sangat pas menikmati sunset di atas kapal meskipun di tengah-tengah laut kapal ada kendala sedikit mesin kapal mati yang membuat kami dan penumpang lain panik tapi ada keberuntungan lain karena kita bisa puas menikmati sunset meskipun tidak seindah di pulau Bali tetapi warna keemasan yang terpancar di atas air laut sangat sempurna. Setelah beberapa menit dalam kepanikan akhirnay mesin kapal berfungsi kembali dan perjalanan di lanjutkan menuju tanjung pasir. Karena ini liburan di traktir sehingga saya hanya mengeluarkan unag Rp 2000,- untuk bayar bilas di kamar mandi umum. 

Holiday it’s doesn’t mean how to expensive but how we are about enjoyed with who and the time.













Minggu, 24 Maret 2013

Happy Holiday


Almost people in the world like a traveling but many people unknown being a real it. The most important to make real is saving the money and make a plan first. If you can’t to save bit money, credit card is the last way.

Traveling is moving from routine activity going to other place never been before. We can do it with family or friends.  Have much knowledge from the destination of traveling will be a wise human in world look.

Many places in the world has the cultural living uniquely with other country. So we can learn about that and the impact is we can known and respect each other. But don’t leave of traditional cultural by own country.

The traveling can be help of economical local resident with tourism. Because they can sold kind of traditional handcraft to traveler as souvenir or sold of local food.  Even though not local people all to feel of grow up of tourism economical. But for other people has a change.

Traveling will be change of mindset many people but don’t be worry about it because has many thing of positive value. Actually have a learning by doing for example is confident about other country language and learn being survival. Happy Holiday.

Sabtu, 23 Maret 2013

Ocean Park BSD City Tangerang


Tanggal 16 Maret minggu kemarin dengan adanya promo “Buy One get One” dari kartu kredit BCA saya dan satu orang teman memanfaatkan promo tersebut untuk bisa menikmati permainan air yang tersedia di Ocean Park BSD City.

Dengan cuaca yang mendung dan sedikit gerimis sehingga pengunjungpun tidak begitu ramai. Fasilitas yang disediakan antara lain kolam ombak, flying fox dan papan seluncur. Untuk kolam juga dipisahkan antara kolam anak-anak dan dewasa.

Untuk kenyamanan bagi pengunjung yang membawa barang bawaan banyak disediakan loker untuk disewa dengan harga Rp 10.000 dan Rp 20.000 untuk sekali buka. Dan bagi yang ingin sewa ban disediakan juga dengan harga sewa Rp 20.000. Karena kami datang sore sehingga banyak ban yang sudah selesai di pakai dan di tinggal oleh penyewa sehingga bisa kami gunakan dengan gratis. Hehehhee.

Berenang di kolam ombak pas mesin dijalankan sangat menegangkan apalagi jika kita punya penyakit jantung karena seperti di ayun-ayun dengan kencang, sangat berbeda dengan ombak di laut yang akan pecah jika sampai di pantai.

Dan yang membuat berkesan dari berenang di saat gerimis adalah munculnya pelangi karena adanya pertemuan rintik-rintik gerimis di awan dengan pancaran sinar matahari senja meski pelanginya tidak begitu tampak.
















Jumat, 22 Maret 2013

Liburan

Setiap orang pasti menginginkan liburan. Meskipun liburan tersebut merupakan perjalanan kerja ataupun memang sudah di rencanakan sebelumnya. Pengertian dari liburan memiliki banyak arti tergantung dari siapa dan bagaimana perjalanan itu sendiri. Banyak yang suka liburan sendiri, liburan keluarga ataupun berombongan. Dan semua itu memiliki kekurangan dan kelebihan dari sudut pandang yang berbeda :

1. Liburan Sendiri
    Yaitu melakukan perjalanan tanpa ada orang lain yang ikut serta sehingga semua persiapan dilakukan sendiri     tanpa bantuan siapapun. Kelebihannya yaitu kita bisa menjelajahi setiap tempat tanpa minta persetujuan dari       orang lain. Kekurangannya adalah semua biaya yang di keluarkan di tanggung sendiri apalagi jika tidak bisa
    mengendarai kendaraan bermotor akan repot jika di daerah tersebut  tidak ada angkutan umum.

2. Liburan Keluarga
    Semua keluarga pasti sangat menginginkan liburan bersama keluarga karena disinilah waktu yang tepat             untuk bercengkrama bersama keluarga apalagi jika satu sama lain sudah sibuk masing-masing.
    Kelebihan dari liburan keluarga adalah adanya saling memiliki antara satu sama yang lain sehingga jika
    ada masalah keluarga bisa dipecahkan bersama-sama. Dan pastinya bagi saya adalah gratisan, heheheh
    Kekurangannya adalah karena saya hanya gratisan sehingga manut aja sama tempat wisata yang dituju.

3. Liburan Tour
    Terkadang jika kita termasuk orang yang tidak mau repot pasti akan memilih paket tour karena sudah
    jelas tempat wisata yang dutuju serta hotel dan transportasi. Kelebihannya jika memilih paket tour adalah           semua persiapan perjalanan sudah di persiapkan oleh penyelenggara tour tersebut sehingga kita tidak bingung     lagi tujuan wisata dan dimana akan menginap. Kekurangan yang tidak banyak orang tahu adalah sebenarnya       belum tentu penyelenggara benar-benar memiliki informasi lengkap obyek wisata tersebut dan kita tidak bisa       mengeksplore tempat wisata tersebut karena keterbatasan waktu yang sudah terjadwal.

4. Touring / berkendara bersama menuju tempat wisata
    Sekarang sudah jaman jika berwisata menggunakan sepeda motor dengan beramai-ramai apalagi jika
    tergabung dengan sebuah club. Yang menjadi kelebihan berwisata dengan cara tersebut adalah kita bisa lebih     merasakan alam dari pemandangan yang dilewati dan memilki rasa kebersamaan antar peserta.
    Dan yang menjadi kekurangannya adalah karena kelelahan pastinya dalam mengeksplore tempat wisata
    yang di tuju sangat kurang dan kita harus tidak egois dalam pemilihan tempat wisata yang disuka.

5. Outing / liburan gratisan dari kantor
    Kalau ini saya sangat minat tetapi sangat disayangkan kantor kami tidak pernah mengadakannya sehingga
    tidak pernah merasakan liburan gratis, hehehehe.
    Banyak perusahaan mengadakan acara tersebut karena ingin membuat semua karyawan itu saling
    mengenal lebih dekat apalagi biasanya diperbolehkan mengikut sertakan keluarga. Sehingga mereka akan           merasa memiliki perusahaan tersebut. Kalau kekurangannya karena liburan gratis pasti waktu sudah                   diperhitungkan sehingga terkadang kita tidak memiliki waktu untuk bisa menikmati tempat tersebut.

6. Liburan dengan teman
    Bagi setiap orang liburan dengan teman adalah salah satu cara untuk mengekspresikan diri karena kita
    bisa menjadi diri sendiri tanpa ada keluarga, teman kantor, ataupun orang lain yang belum kita kenal.
    Sehingga itulah kelebihannya apalagi kita bisa mengeksplore tempat wisata sesuai dengan yang diinginkan
    dan pastinya bisa bebas.
    Tapi kita juga harus menjaga privasi antar teman jangan seenaknya karena bisa membuat liburan dengan
    teman akan menjadi hambar.

Diantara jenis liburan tersebut ada kelebihan dan kekurangan tergantung bagaimana kita menyukai liburan jenis apa. Kalau saya sukanya liburan gratis. hehehehehe. Selamat liburan.

Selasa, 19 Maret 2013

Bali


Liburan ke pulau Bali merupakan impian terbesar saya sebelum memulai perjalanan menjelajahi keindahan alam nusantara, yang akhirnya terlaksana juga di bulan April tahun 2012 bersama dua orang teman.
Pulau Bali yang merupakan contoh tolak ukur kemajuan bisnis pariwisata Indonesia memang tidaklah salah dengan potensi obyek wisata yang dimiliki terlebih dengan keramahan penduduknya. Mungkin banyak orang Indonesia masih beranggapan jika biaya untuk liburan ke Bali itu mahal, padahal  jika kita mau rajin buka internet, banyak cara untuk pergi ke Bali dengan biaya yang terjangkau. Apalagi sekarang banyak penerbangan murah ataupun penerbangan yang menawarkan harga promo tergantung bagaimana kita bisa berusaha untuk mendapatkannya dan atau menggunakan transportasi darat yaitu bus jika kita mempunyai lebih banyak waktu. Dalam hal penginapan dan makanan pun Bali banyak pilihan tergantung dengan kemampuan isi kantong kita.

Karena ini merupakan perjalanan perdana ke Bali membuat saya sangat antusias untuk mempersiapkan semuanya  terutama permohonan izin cuti dari kantor. Sehingga yang pertama saya pikirkan adalah mencari hari libur nasional yang terjepit supaya bisa ambil cuti untuk berapa hari meninggalkan pekerjaan tetapi mendapat hari libur yang maksimal. Persiapan kedua adalah rajin berselancar di internet mencari info harga tiket penerbangan yang sedang promo di tanggal tersebut. Dan yang terakhir mencari hotel yang sesuai isi kantong dan dekat dengan obyek wisata yang ingin kita jelajahi.

Dengan persiapan yang sudah di rencanakan pastinya liburan akan berjalan sesuai dengan apa yang di harapkan terlebih kami bertiga mimiliki kesukaan yang berbeda-beda. Meskipun begitu ada satu kesamaan yaitu menyukai pantai yang masih alami dan sepi dari pengunjung sehingga bisa bebas menikamati keindahan pantai tersebut. Dan tanggal 4 – 9 April terpilihlah sebagai hari libur kami di Bali dan untuk penginapan di www.suriwathi.com yang terletak di Legian.

Dengan berbekal tiket pesawat dari salah satu budget airlines akhirnya kami terbang ke Bali tanpa ada kendala. Hanya dengan waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam dari Jakarta akhirnya pesawat mendarat juga di bandara I Gusti Ngurah Rai yang biasanya hanya saya lihat di FTV. Waktu jam Bali selisih satu jam dengan Jakarta. Setalah pesawat kami mendarat di Bandara Ngurah Rai yang pada saat itu sedang ada pekerjaan renovasi dalam rangka berbenah untuk mempersiapkan kedatangan tamu ke Bali lebih banyak lagi karena akan menerima kedatangan delegasi-delegasi Negara peserta konferensi APEC yang diadakan di Nusa Dua Bali dan kontestan Miss World sehingga menambah kesibukan yang berbeda di Bandara tersebut. Karena hotel yang sudah di booking menyediakan jasa antar jemput dari bandara ke hotel dan sebaliknya sehingga memudahkan kami yang baru pertama ke Bali tanpa harus ribet mencari taxi atau kendaraan lain untuk menemukan alamat hotel tersebut.

Setelah sampai di hotel dan menaruh koper, kami tidak langsung istirahat tetapi memulai perjalanan keliling Legian dan Kuta dengan jalan kaki di bawah terik matahari Bali. Itulah kegilaan pertama di liburan ini tanpa ada rasa lelah meskipun baru tiba. Setelah merasa lelah keliling dengan jalan kaki karena belum sempat sewa sepeda motor kami pun langsung kembali ke hotel dan rileksasi dengan cara berenang terlebih dahulu sebelum mandi. Sebenarnya jalanan di Legian dan Kuta di waktu siang hari itu tidak begitu ramai tetapi jika sore tiba banyak sekali kendaraan yang lewat dan wisatawan dalam negeri maupun mancanegara yang berjalan-jalan untuk menikmati suasana sore di pinggir pantai sambil melihat dan mengabadikan  matahari terbenam.

Menikmati suasana malam di Bali sungguh berbeda karena yang kita temui hanyalah wisatawan mancanegara sehingga kami merasa berada di Negara orang. Mungkin itulah yang membuat Bali itu berbeda dengan kota lain yang menjadi ikon wisata dan memiliki keindahan pantai yang sama. Sebelum menikmati malam di Bali terlebih dahulu kami mengisi perut di warung Padang dekat hotel, ternyata warung Padang itu tersebar di seluruh Indonesia. Dan harganya juga tidak jauh berbeda dengan dengan harga Jakarta, selama 6 hari di Bali kami hanya makan di warung Padang atau makanan cepat saji.

Hari kedua di Bali kami lewati dengan menikmati pantai Geger yang berada di daerah Nusa Dua. Dengan menyewa sepeda motor kami bertiga menuju Nusa dua, ternyata dengan adanya penyewaan sepeda motor di Bali sangat memudahkan wisatawan untuk menjelajahi Bali karena sekarang banyak jalanan kota yang macet seperti di Jakarta meskipun tidak separah Ibu Kota. Perjalanan untuk menuju pantai geger memiliki cerita tersendiri karena sering kami jumpai penduduk lokal dengan rutinitasnya. Ketika kami ke pantai geger ternyata sedang dimulai pengerjaan pembangunan The Mulia Hotel sehingga jalanan yang kami lewati berdebu. Setelah beberapa kali salah jalan akhirnya sampai juga di pantai geger. Di pantai geger kami tidak langsung bisa menikmati keindahan pantai karena untuk menuju pantai geger harus menuruni anak tangga sehingga kami bisa menikmati pantai dari atas terlebih dahulu dan sesekali kami melihat kera yang bergelantungan di pohon.


Di pantai geger ini kami juga bisa melihat hewan onta yang disewakan dan terlihat juga ada orang yang sedang melakukan foto pre wedding. Dengan pasir pantai seperti merica membuat nyaman untuk tiduran diatasnya meskipun panas matahari yang tentunya bisa membakar kulit kami. Ada juga jasa pijat dan kamar mandi untuk bilas yang disediakan oleh penduduk lokal sehingga pengunjung tidak segan untuk bermain di pantai. Karena perjalanan dari Nusa Dua ke Legian lumayan memakan waktu sehingga kami tidak sampai melihat matahari terbenam  di pantai geger.

Dan yang lebih berwarna dari liburan kami adalah melihat langsung acara selamatan di hotel tempat kami menginap yang pada saat itu sedang melaksanakan upacara pemindahan tempat ibadah yang berada di area hotel. Sehingga kami bisa mengetahui tata cara selamatan yang dilakukan warga Bali. Di hotel tempat kami juga banyak kebiasaan yang belum pernah di jumpai di Jakarta, seperti yang kami amati. Karena sedang ada pembangunan dalam rangka  panambahan kamar huni tetapi yang kami lihat bukannya pekerja pria tetapi banyak pekerja wanita yang sedang melakukan pekerjaan kasar yang biasa di lakukan oleh pria sebagai buruh bangunan. Tanpa rasa lelah mereka melakukan pekerjaan kasar tersebut. Mungkin itu adalah sebagian dari tradisi mereka jadi sehingga jika kita melihat pekerja bangunan wanita di Bali tidaklah heran. 


Setiap melakukan perjalanan pasti kita akan menemukan teman baru yang dapat menambah keseruan begitu juga di hari ketiga liburan kami. Disaat jalan-jalan di Legian kami berkenalan dengan temen baru kami yaitu dua orang gadis. Yang ternyata mereka masih duduk di bangku SMA dan sedang menikmati liburan mendadak untuk menghadiri  acara keluarga di daerah Ubud.
Ubud, mungkin bagi sebagian orang sudah mengenalnya setelah menjadi salah satu tempat untuk syuting film Hollywood yang di bintangi oleh Julia Roberts yaitu Eat Pray and Love. Tetapi sebelum ke Ubud kami sempatkan untuk Shalat Jumat terlebih dahulu di Kuta. Perjalanan ke Ubud dari Legian menggunakan sepeda motor membutuhkan waktu kurang lebih dua jam, karena ini perjalanan pertama ke Ubud sehingga kami belum tahu jalan. Tetapi itulah indahnya dari suatu perjalanan tanpa harus tahu jalan sebelumnya sehingga kita bisa berkomunikasi dengan penduduk lokal dan belajar bahasanya. Jika melakukan perjalanan ke Ubud kita juga bisa sekalian mengunjungi Istana Tampak Siring dan jika bertepatan dengan malam bulan purnama kita bisa menjumpai warga yang pergi ke mata air Tampak Siring untuk melakukan mandi suci. Sehingga kita bisa mengetahui kebudayaan dan kebiasaan masyarakat Ubud secara langsung. Karena jaraknya yang jauh dan susahnya transportasi umum sehingga ada beberapa warga Ubud yang belum pernah ke Kuta. Mungkin itulah cerminan pariwisata di Indonesia belum tentu kota yang pariwisatanya maju warga lokalnya bisa menikmati kemajuan tersebut.  Selain Istana Tampak Siring kita juga menjumpai Museum Soekarno yang di bangun untuk menyimpan benda-benda peninggalan presiden pertama Republik Indonesia yang sebelumnya di simpan di Istana karena adanya Bom Bali 1 dan 2 sehingga jika kita ingin masuk ke Istana tidak mudah dan diharuskan booking terlebih dahulu.

Melakukan perjalanan ke Ubud dengan sepeda motor seharusnya kita mengetahui perbedaan suhu terlebih dahulu antara ubud dengan Kuta atau daerah yang dekat dengan pantai, sehingga tidak terjadi salah kostum seperti kami yang hanya menggunkan kaos tanpa lengan yang mengakibatkan masuk angin. Perjalanan ke Ubud sungguh indah dengan tersajinya pemandangan terasiring sawah seperti lukisan alam yang mengagumkan, memang tidaklah salah jika UNESCO menetapkan sebagai keajaiban dunia. Dan hari ketiga kami di habiskan seharian untuk  menikmati sejuknya alam Ubud. Meski pas pulang ke hotel kami ada masalah sedikit dengan Polisi Bali sehingga kena tilang karena tidak lihat lampu merah, pelajaran yang dapat di petik adalah kita harus taat berlalu lintas dimanapun berada.

Melihat tari kecak atau tari pendet di GWK adalah agenda hari keempat kami. Perjalanan menuju ke GWK sangat mudah karena kita melewati Universitas Udayana dan adanya penunjuk jalan yang jelas tidak seperti ketika kami pergi ke pantai geger. Dengan membayar Rp 30.000,- sebagai biaya tiket masuk GWK kita bisa keliling di area wisata GWK. Sebenarnya pembangunan GWK itu sendiri belumlah selesai keseluruhannya dan di depan pintu masuk terlihat ada bangunan yang terbengkelai. Selain tari Pedet dan Kecak kita bisa melihat patung yang tersebar di area GWK dan melihat Bali dari ketinggian.




Setelah puas melihat patung dan berfoto-foto kami pulang di lanjutkan ke Djoger terlebih dahulu. Djoger adalah merek dagang kaos khas bali dengan kata – kata yang unik. Karena Djoger adalah kaos khas Bali sehingga ketika kami datang sudah ramai oleh pembeli yang kebanyakan wisatawan tour grup dari dalam negeri.

Menikmati keindahan alam Bali disaat surya tenggelam di ufuk barat  adalah sebagian kecil dari  kebahagiaan  tanpa sebab. Tetapi sebelum menikmatinya  kami berburu oleh-oleh terlebih dahulu disekitar Kuta dan Legian. Di sepanjang jalanan yang kita lewati banyak sekali pedagang yang menjajakan souvenir khas Bali seperti topeng leak, kain Bali, perhiasan dan masih banyak lagi jenis oleh-oleh yang di perjual belikan. Setelah lelah berbelanja dan waktu hampir mendekati Magrib kami pun segera pulang dan mandi setelah itu di lanjutkan ke pantai Legian. Karena untuk mencapai pantai Legian dari hotel Suriwathi hanya membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit dengan jalan kaki sehingga kami memilih menikmati senja dan sunset di pantai Legian sambil melihat wisatwan yang sedang bermain selancar. 


Ada ketenangan ketika menikmati senja di tepi pantai dan mengabadikan surya menuju ke peraduan dan di iringi musik Jazz sungguh menakjubkan karunia Tuhan. Setelah puas dan hari sudah mulai gelap kami pun pulang ke hotel supaya bisa tidur lebih cepat karena besok adalah hari terakhir di bali. Karena dua orang temen baru kami minta ketemuan, maka di putuskan untuk ketemuan di  pantai Legian untuk menikmati malam di tepi pantai. Akhirnya kita bertemu dengan mereka dengan di temani suara deburan ombak yang bergemuruh membuat kami menikmati malam terakhir di tepi pantai penuh kedamaian. Setelah larut malam kami pun mengantar mereka pulang ke Hotel, karena hari kepulangan ke Jakarta di hari yang sama sehingga kita janjian untuk pergi ke bandara bersama. Hari kelima di lalui dengan beli oleh-oleh dan menikmati senja di pantai Legian.

Hari terakhir kami di Bali hanya di habiskan dengan packing semua barang yang berserakan di kamar supaya tidak ada satupun yang tertinggal. Setelah packing selesai dan check out dari hotel, kami tidak langsung ke bandara tetapi jemput teman baru kami di hotel mereka. Dalam perjalanan ke bandara kami mampir terlebih dahulu ke Toko Krisna. Toko Krisna merupakan pusat oleh-oleh yang terkenal di Bali karena barang-barang yang dijual beragam dan dengan harga yang terjangkau pula apalagi berlokasi dekat dengan bandara sehingga memudahkan wisatawan untuk menjangkaunya. Setelah selesai belanja perjalanan di lanjutkan menuju bandara. Karena penerbangan kami ada perubahan jam sehingga harus ke bandara lebih awal untuk konfirmasi. Sebenarnya jika kita menunggu di bandara waktu seperti berjalan dengan cepatnya. 

Berakhirlah sudah liburan di Bali setelah pesawat yang kami naiki terbang menembus kegelapan malam menuju Jakarta. Suatu hari nanti saya masih ingin menjelajahi Bali yang belum sempat di explore keindahannya seperti Desa Tenganan yang merupakan desa adat yang masih ada dari dulu. Liburan yang mengesankan dengan pengalaman dan temen baru yang sampai sekarang kami masih berkomunikasi dengan baik. Menyempatkan waktu untuk liburan kita akan lebih banyak mengetahui kehidupan sosial masyarak daerah lain ataupun Negara lain dan keindahan alamnya serta bersyukur atas apa yang dimiliki selama ini. Selamat Berlibur….
Biaya Perjalanan :
Tiket Pesawat Jkt-Dps PP         : Rp 1.200.000/orang (beli 3 bulan sebelumnya)
Hotel 6Hari/5Malam                 : Rp 1.850.000 : 3 = Rp 620.000/orang
Makan 6Hari/5malam               : Rp 50.000 x 6 = Rp 300.000 ( makan di warung Padang / Fast Food )
Sewa Sepeda Motor                  : Rp 50.000 x 4 = Rp 200.000
Bensin                                       : Rp 20.000 x 4 = Rp 80.000
Airport Tax                                : Rp 75.000 PP
Biaya Lain-Lain & oleh-oleh    : Rp 1.000.000
Total biaya perorang                  : Rp 3.475.000

Catatan : kita bisa lebih irit lagi jika beli tiket pas harga promo karena bisa setengah dari harga di atas
              dan untuk penginapan yang lebih murah ada di daerah Poppies Kuta serta tidak beli oleh-oleh.

Senin, 18 Maret 2013

Keindahan Sunset

Melihat matahari terbenam di ufuk Barat adalah salah satu tujuan wisata jika ke pantai. Tetapi terkadang kita tidak menyadari bahwa suasana matahari terbenam di perkotaan juga ada keindahan tersendiri seperti di antara gedung dan jalan tol.

1. Senja di Jalan Sudirman




2. Sunset di antara Gedung Tinggi


3. Sunset di gerbang tol Kebon Jeruk


4. Sunset di Summarecon Mal Serpong

5. Sunset di Mal @Alam Sutera








Sabtu, 16 Maret 2013

Yogyakarta


Terkenal sebagai kota Pelajar dan gudeg serta kota yang sampai sekarang masih memepertahankan tradisi budaya keraton membuat Yogyakarta menjadi salah satu kota tujuan wisata yang populer.
Melakukan perjalanan di musim hujan ternyata banyak kendala terlebih jika kita menggunakan pesawat, seperti  yang saya alami waktu ke Yogyakarta. Sebenarnya perjalanan kali ini tidak saya rencanakan sebelumnya sehingga dari awal keberangkatanpun banyak masalah.
Masalah pertama yaitu dengan mundurnya jam keberangkatan lebih dari 4 jam, sehingga membuat saya jengkel dan hampir membatalkan perjalanan. Dengan keterlambatan tersebut mengakibatkan rencana awal juga ikut batal yaitu pergi ke Candi Prambanan yang merupakan komplek candi Hindu di daerah Jawa. Mengapa saya memilih Candi Prambanan menjadi tujuan pertama karena lokasinya yang dekat dengan bandara sehingga saya memilih penerbangan siang supaya bisa ke Candi Prambanan terlebih dahulu sebelum cari penginapan. Setelah menunggu 4 jam lebih pesawat yang akan saya naiki akhirnya terbang menuju Yogyakarta melalui terminal 2. Karena cuaca di Yogyakarta sedang turun hujan disertai angin sehingga pilot memberi info jika lebih dari 30 menit tidak ada informasi dari otoritas Bandara di Yogyakarta hujan sudah reda maka pesawat akan kembali ke Jakarta karena aftur hanya tersisa untuk kembali ke bandara Soekarno Hatta. Setelah 30 menit hanya  muter-muter di langit Yogyakarta akhirnya diputuskanlah kembali ke Jakarta.



Masalah kedua ketika saya menuju meja informasi untuk menanyakan kapan pesawat akan berangkat, ternyata pesawat sudah melakukan penerbangan 5 menit yang lalu dan saya ketinggalan pesawat. Beruntung masih ada pesawat tujuan Surabaya yang transit terlebih dahulu di Yogyakarta sehingga saya masih bisa ikut serta terbang. Dengan berlari kecil saya menuju ke pesawat yang kurang beberapa menit lagi akan terbang, dengan di bantu oleh karyawan maskapai penerbangan tersebut. Karena keterlambatan lebih dari 4 jam seharusnya kita mendapatkan kompensasi dari maskapai tetapi kenyataannya tidak begitu.
Penerbangan dari Jakarta menuju ke Yogyakarta hanya membutuhkan waktu 1 jam tetapi pesawat yang saya naiki ternyata sulit dalam melakukan pendaratan sehingga lebih dari 20 menit terbang di kegelapan langit Yogyakarta. Setelah mendarat yang saya lakukan pertama yaitu mencari penginapan karena ketika sampai di Yogyakarta sudah menunjukan pukul 20.00. Dengan bantuan dari seorang teman yang baru saya kenal dari teman akhirnya kami keliling Yogya mencari hotel yang masih ada kamar kosong. Karena ketika saya ke Yogyakarta pas dengan libur panjang sehingga banyak kamar hotel yang sudah penuh apalagi yang dekat dengan Malioboro. Sebenarnya saya ingin menginap hanya untuk satu malam karena besok paginya saya sudah janjian sama temen dari Jakarta yang sudah sampai Yogyakarta terlebih dahulu ( temen saya tidak menggunakan jasa pesawat sehingga sampai duluan), untuk menikmati obyek wisata di Yogyakarta. Yaitu menikmati keindahan alam Candi Borobudur. Akhirnya dapat juga penginapan yang masih ada kamar yang kosong meski dengan fasilitas yang seadanya, tetapi yang terpenting bagi saya pada saat itu adalah ada tempat untuk  tidur malam pertama saya di Yogyakarta.

Candi Borobudur adalah candi Budha terbesar di dunia dan merupaka salah satu keajaiban dunia yang sudah terkenal bagi wisatawan yang mengunjungi Yogyakarta. Dengan tiket masuk Rp 30.000,- wisatawan dalam negeri dan $20 bagi wisatawan mancanegara, kita sudah bisa mengelilingi candi tersebut. Sebenarnya dengan harga tiket masuk tersebut sudah termasuk mahal karena kita hanya mengelilingi lokasi candi hanya 15 menit dan tidak ada atraksi lain yang bisa dilihat. Tetapi dengan harga tersebut jika kelestarian candi terawat tidaklah rugi.



Maria Sharapova yang merupakan petenis nomor 2 dunia asal Rusia adalah salah satu wisatawan mancanegara yang takjub dengan keindahan alam Candi Borobudur dan menceritakannya di majalah travel Rusia. Perjalanan menuju ke candi Borobudur yang terletak daerah Magelang lumayan jauh tetapi karena sehari sebelumnya teman sudah menyewa mobil sehingga dapat mempermudah transportasi menuju kesana.

Menikmati suasana malam di kota tujuan wisata adalah wajib seperti halnya saya setelah pulang dari candi Borobudur dan mencari penginapan terlebih dahulu untuk menaruh koper karena di hotel yang pertama hanya booking untuk satu malam. Akhirnya saya mendapatkan penginapan di daerah jalan Sosrowijoyan yang terkenal dekat dengan Pasar Kembang. Daerah tersebut sangat terkenal karena merupakan daerah tempat prostitusi di Yogyakarta dan dekat dengan rumah penduduk. Sebenarnya lokasi tersebut tidak seperti lokalisasi karena banyak terlihat anak kecil dan orang-orang yang sudah tua melakukan aktifitas biasa. Sebelum masuk ke lokasi tersebut tamu harus membayar retribusi sebesar Rp 5.000,- untuk kebersihan.
Malioboro adalah tujuan utama wisatwan untuk menikmati suasana malam karena jika malam tiba lokasi tersebut sangat ramai oleh wisatawan dalam negeri maupaun mancanegara yang mencari oleh-oleh khas Yogyakarta dan makan di warung lesehan menjajakan makanan khas yaitu gudeg. Karena ingin menikmati malam sehingga langsung di lanjutkan dengan melihat Benteng Verdeburg dan Keraton serta alun-alun utara dengan jalan kaki.


Ketika saya sedang berjalan menuju keraton yaitu tepat di depan gedung Bank Indonesia terlihat ada keramaian yang ternyata ada sekelompok mahasiswa yang berasal dari provinsi Papua sedang memperkenalkan tarian tradisional mereka. Sehingga malam itu sangat berbeda bagi saya yang baru pertama kali menyaksikan tarian tersebut.


Karena saya sudah cukup lelah di waktu siang hari setelah mengelilingi Candi Borobudur dan di lanjutkan mengelilingi jalan Malioboro sampai Keraton Ngoyogyakarto sehingga saya memutuskan kembali ke losmen untuk tidur lebih cepat supaya besok bisa bangun lebih pagi untuk melanjutkan perjalanan wisata ke daerah Gunung Kidul  yang terkanal memiliki obyek wisata pantai yang indah tidak kalah dengan pantai – pantai di pulau Bali.


Obyek wisata yang pertama di kunjungi di daerah Gunung Kidul adalah Gua Pindul, untuk menyusuri gua tersebut terlebih dahulu saya harus bayar tiket masuk sebesar Rp 12.000 yang sudah termasuk sewa jaket pelampung  dan guide. Untuk mencapai daerah Gunung Kidul saya dan teman menyewa mobil untuk mempermudah transportasinya. Setelah puas bermain air di gua pindul akhirnya perjalanan dilanjutkan untuk menyusuri pantai yang ada di daerah Gunung Kidul yang alamnya terkenal tandus. Meski begitu banyak pantai yang indah-indah yang bisa kita nikmati disana hanya saja tidak ada angkutan umum yang tersedia jadi kita harus sewa mobil atau menggunakan mobil pribadi. Pantai Indrayanti adalah yang pertama saya kunjungi.
                  




Perbedaan dari pantai di daerah Yogyakarta dan Bali adalah tidak adanya wisatawan yang berjemur atau bemain selancar di pantainya tetapi hanya wisatawan keluarga yang menikmati pantai sambil makan bersama.
Karena sore harinya teman saya harus kembali ke Jakarta sehingga kamipun tidak sempat bermain di pantai tetapi hanya foto-foto saja. Setelah mengantar teman ke airport saya meminta sopir untuk mengantarkan ke Edu Hostel yaitu hostel pertama  yang ada di Yogyakarta karena masih ada sisa waktu sewa mobil. Dengan konsep bayar tempat tidur dan termasuk sarapan pagi sehingga kita bisa saja tidur di kamar bercampur dengan orang yang tidak kenal sebelumnya. Tetapi sebelum di antar ke Hostel tersebut terlebih dahulu saya di antar menuju toko yang menjual batik khas Jogyakarta yaitu Batik Tirta Noto. Barang yang diperjualbelikan adalah bati cap dan batik tulis tetapi mempunya corak yang elegan dengan harga yang terjangkau. Setiap sopir mobil sewa ternyata bekerjasama dengan toko oleh-oleh yang berada di sekitaran Yogyakarta sehingga mereka akan mendapat komisi jika mengantar tamu ke toko tersebut. Malam terakhir saya di habiskan di kamar hostel sendirian karena sudah lelah seharian jalan-jalan dan besok pagi harus terbang dengan pesawat siang. Sebenarnya ketika baru pertama datang saya di tempatkan di kamar dengan beberapa orang  tidak saya kenal yang sedang reuni sehingga disaat saya buka pintu kamar mereka semua terkejut dengan kedatangan saya. Akhirnya mereka booking juga satu tempat tidur yang seharusnya buat saya. Dengan di pindahkannya saya di kamar lain membuat saya bisa tidur nyenyak karena mendapatkan kamar yang kosong.
Suasana pagi hari di hostel sangat indah jika cuaca cerah karena kita bisa duduk-duduk di roof sambil melihat gunung merapi dan gunung merbabu tetapi karena mendung sehingga tidak terlihat kedua gunung tersebut. Di atas roof juga ada fasilitas tempat untuk berendam yang bisa kita gunakan kapanpun kita mau tetapi yang paling pas jika cuaca sedang panas dan ada fasilitas wifi juga di lantai dasar.


Setelah selesai mandi dan sarapan saya memilih check out lebih awal dari hostel karena mau mencoba transportasi umum yang mirip seperti Transjakarta yaitu Transyogya untuk menuju bandara. Ternyata dengan adanya Transyogya menambah pengalaman dari sebuah liburan karena kita bisa mencoba transportasi umum yang ada di kota tersebut. Hanya saja untuk untuk mencapai halte lumayan jauh dari hostel. Dengan menggunakan Transyogya waktu tempuh yang dibutuhkan kurang lebih 1 jam dan yang pasti halte Transyogya berada di dalam area bandara sehingga memudahkan bagi kita yang memanfaatkan moda transportasi tersebut. Pesawat yang saya pilih untuk pulang dari Yogyakarta adalah Garuda, dan saya cukup puas denggan pelayanannya karena tidak ada keterlambatan seperti yang saya alami waktu keberangkatan dengan pesawat lain.

Ternyata dengan kita liburan di negeri sendiri akan banyak tahu tempat yang indah dan kehidupan warga lokal dengan budaya yang berbeda sehingga bisa menambah wawasan tentang budaya Indonesia.

Biaya liburan :
Tiket Pesawat PP           :  Rp 1.200.000,- ( Harga tiket bisa lebih murah jika beli pas ada harga promo )
Airport Tax                    :  Rp 40.000,-
Hotel                             :  Rp 270.000,- ( malam 1 dan 2 permalam Rp 100.000,- Edu Hostel Rp 70.000,-)
Sewa Mobil                   :  Rp 350.000,-/3 ( Rp 150.000 + uang tip supir )
Biaya lain-lain dan oleh-oleh       : Rp 1.000.000,-
Total Biaya Perjalanan               :  Rp 2.660.000,-

Senin, 11 Maret 2013

Tegal

Kota yang terkenal dengan Warung Tegalnya dan logat bicara yang terdengar khas sebenarnya mempunyai daerah wisata alam yang asri di Kecamatan Bumi Jawa. Dengan wilayah yang di bawah kaki Gunung Slamet membuat udara di kawasan tersebut dingin apalagi jika kita kesana pas di bulan penghujan. Wisata yang alam yang di suguhkan sangat beragam seperti air terjun, pemandian air panas Guci, Waterboom Sulaku, tempat pemancingan dan ada juga kebun teh di desa Karang Anyar. 

Bulan Januari tahun ini saya berkesempatan liburan ke Bumi Jawa dengan menggunakan kendaraan pribadi, kami satu keluarga menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam. Tetapi jika kita menggunakan transportasi umum juga mudah rutenya karena banyak bus jurusan Purwokerto. Kenapa tidak menggunakan bus jurusan Tegal? karena jika dari yang jurusan Tegal kita akan naik angkutan umum 2 kali lagi. Tetapi jika kita naik yang jurusan Purwokerto maka kita akan berhenti di pertigaan Yomani yang di lewati oleh bus tersebut. Di pertigaan tersebut banyak elf jurusan Bumi Jawa yang sedang menunggu penumpang. Tetapi saya sarankan jika kita ingin pergi ke Bumi Jawa lebih baik memilih perjalanan di siang hari karena jika kita tiba sudah kesorean akan susah mendapatkan transportasi karena elf jurusan ke Bumi Jawa tidak sampai malam beroperasinya. 

Perjalanan menggunakan kendaraan pribadi banyak sekali yang bisa kita nikmati selama perjalanan. Sebelum ke Bumi Jawa kita berhenti dulu di kawasan wisata Panti Alam Indah Tegal terlebih dahulu untuk melihat sunset dan memancing ikan. Tetapi ketika saya kesana kurang beruntung karena sedang musim hujan sehingga matahari tertutup oleh awan. Meski tertutup awan tidak mengurangi keindahan ketika melihat matahari terbenam di ufuk Barat. Setelah puas bermain di pantai dan akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Bumi Jawa.
Setiap saya ke Bumi Jawa pasti di sempatkan untuk mencoba soto Sedap Malam yang terletak di Adiwerna dan sudah terkenal di daerah Tegal. Dengan harga yang murah kita bisa makan kenyang dengan soto yang khas dengan tulang keringnya. Soto Sedap Malam jika pas libur Idul Fitri sangat ramai dan antri karena kekhasan rasanya padahal sudah ada banyak cabang tetapi tetap saja yang paling ramai.

Setelah mengisi perut kamipun melanjutkan perjalanan di kegelapan malam. Dengan jalanan yang menanjak sungguh sensasi tersendiri apalagi jika kita belum pernah mengalaminya. Jika sudah sampai Kalibakung udara dingin sudah terasa di dalam mobil sehingga saya langsung menggunakan jaket yang sudah saya siapkan dari Tangerang. Perjalanan dari Adiwerna ke Bumi Jawa hanya membutuhkan waktu 1 jam karena jalanan yang di lewati sepi tidak seperti jalanan Jakarta yang setiap hari macet. Karena masih punya rumah keluarga di Bumi Jawa sehingga kami tidak membutuhkan penginapan.Tetapi Jika ingin mencari penginapan di Bumi Jawa juga ada Cotel yang rate harganya Rp 150.000,- Rp 600.000,- permalam dengan fasilitas lapangan tenis, kolam renang dan Outbound juga.

Melihat matahari terbit di pedesaan itu ada sensasi tersendiri terlebih ada gunung dan bukit-bukit yang tampak.



 
Di Bumi Jawa juga kita bisa melihat mata air Bulakan yang setiap tanggal 12 Rabiul Awal di jadikan tempat  untuk memandikan "Bende" yaitu berupa gong kecil yang di keramatkan. Bangunan tempat buat memandikannya sangat artistik dan di dalamnya banyak sekali terdapat paralon besi besar yang digunakan untuk mengalirkan air ke kota Tegal.

Jika kita ke Bumi Jawa di bulan Januari makan akan merasakan perubahan cuaca dalan sehari yang berubah drastis, jika di pagi hari matahari sudah berani tampak tetapi agak siang sedikit langit akan mendung dan sore harinya jika tidak hujan maka kabut akan turun dengan baunya yang khas menambah suasana pedesaan yang khas.   


Karena cuaca sangat dingin maka kami memutuskan untuk mandi di Pemandian Air Panas Guci. Perjalanan menuju ke Guci dari rumah hanya membutuhkan waktu 30 menit karena jalnan tidak macet tetapi jika pas Hari Raya Idul Fitri untuk menuju ke Guci jalanan akan macet sampai di Tuwel.



Di Guci selain kita mandi air panas ada juga kegiatan lain seperti naik kuda yang banyak di sewakan dan membeli oleh-oleh seperti sayuran yang merupakan hasil bumi penduduk setempat.

Walaupun lama perjalanan hanya 3 hari 2 malam kita sudah bisa puas mengunjungi banyak obyek wisata di daerah Bumi Jawa dan Tegal. Karena ini liburan numpang sama keluarga sehingga saya tidak mengeluarkan biaya sedikitpun alias liburan gratis.