Rabu, 30 Oktober 2013

2 hari 1 malam di Krabi

Seperti yang sudah di tulis sebelumnya dalam judul 14 jam di Kuala Lumpur. Perjalanan kami selanjutnya akan di lanjutkan ke Krabi yang merupakan salah satu Provinsi di Thailand Selatan. Mungkin Krabi tidak begitu terkenal di banding dengan Phuket ataupun Bangkok. Tetapi sebenarnya jika kita menyukai ketenangan dan keramahan penduduk lokal Krabi bisa menjadi salah satu tujuan wisata terutama bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim karena di Krabi banyak di jumpai kedai makanan Halal dan ada juga penduduk lokal ataupaun pegawai hotel yang sedikit mengerti bahasa Melayu sehingga memepermudah komunikasi kita.

Untuk perjalan ke Krabi penerbangan langsung dari Kuala Lumpur ada dua kali yaitu pagi dan siang. Karena kami hanya menginap satu malam sehingga memilih penerbangan yang pagi yaitu jam 06.30 pagi  waktu Malaysia. Dan rencana hari pertama kami adalah ke Phi Phi Island sehingga memilih jam penerbangan pagi supaya masih bisa ikut gabung wisatawan lain. Tetapi prediksi kami salah ternyata pesawat Airasia yang akan kami naiki ada masalah keterlambatan penerbangan 30 menit sehingga jadwal yang sudah di rencanakan berantakan dan tidak sesuai dengan rencana awal, serta di tambah waktu untuk boarding hanya di beri 1 jam sebelum keberangkatan, sehingga banyak wisatawan yang antri dari jam 4 pagi menumpuk di pintu boarding.

Dan pagi itu juga di Malaysia turun hujan, mungkin itu yang menyebabkan adanya keterlambatan penerbangan.

Penerbangan ke Krabi dari Kuala Lumpur membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Dan begitu melihat langit di atas Krabi lewat jendela pesawat sangat indah dengan sedikit awan padahal ketika pesawat tinggal landas dari LCCT cuaca di Kuala Lumpur sedang hujan. Bandara Krabi sebenarnya kecil tetapi sangat bersih. 

Langit Krabi yang biru dengan gunung karst yang tampak dari jendela pesawat.

Sebenarnya yang kami tuju bukan di pusat kota Krabi tetapi Ao Nang. Dari bandara Krabi ke Ao Nang ada dua alternatif kendaraan yang bisa kita pilih yaitu bus umum dan taxi. Biaya bus dari bandara ke Ao Nang 150 THB dan taxi 600 THB. Karena kami menginginkan cepat sampai di hotel supaya bisa ikut tur Hopping Island maka kami memilih taxi yang sdh kami pesan sebelumnya lewat website dan enaknya kita tidak langsung bayar lewat website tetapi bayar tunai ketika sampai hotel sehingga keamanan transaksi tidak diragukan dan kepercayaan yang di utamakan.

Taxi di Krabi adalah mobil van yang sudah di modifikasi dengan kursi yang empuk dan di lengkapi wifi sehingga wisatawan merasa nyaman meskipun supirnya kurang dalam berkomunikasi, tetapi sedikit tahu bahasa Inggris. Jika kita menggunakan taxi sebaiknya rombongan supaya murah.


Jalanan Krabi menuju Ao Nang yang sepi dengan latar belakang gunung karst

Perjalanan dari bandara ke Resort yang sudah kami pesan sebelumnya lewat www.airasiago.com  membutuhkan waktu 30 menit karena jalanan di Krabi tidak macet dan tidak begitu banyak kendaraan. Yang saya salut adalah meski jalanan sepi dan tidak macet mereka sangat mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Di dalam perjalanan supir taxi yang kami naiki mengucapkan kalau kita sangat beruntung karena hari tersebut adalah hari pertama ada matahari di Krabi sehingga sangat cerah langitnya dan hangat sinar mataharinya.

Sesampainya di resort kami langsung memesan paket wisata hopping island ke Phi Phi Island tetapi karena sampai resort jam 08.30 pagi waktu Thailand sehingga kami telat karena jika kita menginginkan paket tour tersebut wisatwan akan di jemput di hotel jam 08.00 pagi. Resort yang kami inap namanya www.aonangcliffviewresort.com sebenarnya kamar yang kami pesan adalah fan room tetapi kami mendapatkan kamar yang ac tanpa ada penambahan biaya. Pegawai resort yang di resesepsionis sangat fasih bahasa Inggrisnya sehingga sangat membantu jika kita membutuhkan sesuatu. Akhirnya pegawai tersebut memberikan alternatif hopping 4 island yaitu Tup Island, Chicken Island, Poda Island dan Phra Nang Beach. Dengan sedikit kecewa akhirnya kami memutuskan ikut gabung tur tersebut, dan ternyata kami juga tidak ada kesempatan untuk istirahat sama sekali karena sudah di jemput untuk menuju dermaga. Karena baju yang kami kenakan adalah baju yang di pakai pas di Kuala Lumpur akhirnya kami meminta waktu untuk ganti pakaian terlebih dahulu.

Untuk menuju keempat pulau tersebut kita menggunakan perahu kayu khas Thailand dan dalam satu kapal hanya ada 10 wisatwan yang duduknya di atur supaya seimbang. Dan ada satu tour guidenya serta di bantu satu orang lagi yang mengendari kapal tersebut.

Tour guidenya yang menamakan dirinya Mr. Kingkong

Pemberhentian pertama adalah di Pulau Tup, disana kita bisa melihat ikan-ikan yang berenang di tepian pantai tanpa harus snorkling.





Dan disini juga kami mendapatkan teman baru yaitu New dan Djazell yang sampai sekarang masih komunikasi dengan baik. New adalah warga asli Thailand yang tinggal di Bangkok sedangkan Djazell dari Amerika yang sedang liburan merayakan kelulusan kuliahnya. Karena kita menggunakan perahu yang berbeda sehingga kita pisah, tetapi Djazell masih bersama kami dan dia cerita kalau satu hari sebelumnya di Ao Nang diguyur hujan dan hari tersebut adalah hari pertama ada matahari seperti yang supir taxi ucapkan sebelumnya.

Setelah hampir 2 jam di pulau Tup akhirnya tour guide membawa kami melanjutkan perjalanan ke Chicken Island, disini kita bisa snorkling dan alat untuk snorkling sudah disiapkan tanpa ada biaya sewa. Supaya ikan-ikannya muncul di permukaan tour guide kami sdh mempersiapkan roti untuk umpan.


Hasil jepretan Djazell.

Pulau ketiga yang akan di tuju adalah Poda, di tengah perjalanan tour guidenya bilang bahwa di Poda kita akan makan siang yang sudah disipakan dan bungkusnya harus di buang di tempat yang sudah disiapkan sehingga tidak mengotori pulau. Mungkin itu yang membuat pariwisata di Thailand maju karena setiap pelaku wisata sadar akan kebersihan. 

Foto bersama dengan tempat sampah yang telah disediakan oleh tour guide.


Hamparan pasir putih dan birunya air laut beserta awan putih di langit yang biru serta gunung karst.

Perahu khas Thailand.

Setelah kenyang dan puas di pulau Poda peejalanan di lanjutkan ke Phra Nang Beach. Tour hopping 4 island yang kami ikuti adalah dengan Baraccuda tour dan biaya yang kami bayar sebesar 400THB terbilang murah karena sudah termasuk makan siang plus buah serta minuman kemasan dingin yang sudah disiapkan.

Phra Nang beach mempunyai gua sebagai atraksi pariwisatanya dan penjual makanan yang menggunakan perahu serta patung alat kelamin pria. Dengan pasir yang sangat halus membuat kita merasa nyaman berjalan diatas pasir tersebut.



Hasil foto-foto perjalanan ke Phra Nang Beach.

Melihat wisatawan yang sedang foto di patung alat kelamin pria.

Setelah jam 4 sore akhirnya perjalanan hopping 4 pulau selesai di Phra Nang Beach. Akhirnya kami di drop di dermaga pantai Ao Nang untuk kembali ke hotel masing-masing.

Untuk menuju ke resort kita tidak usah khawatir karena resort sudah menyediakan kendaraan gratis. Tetapi kita harus kumpul di tempat yang sudah di tentukan.
Toko tempat penjemputan ke resort.

Jika kita sudah sampai di toko nanti pegawai toko akan memberi informasi kalau mobil jemputan sudah ada. 
Mobil jemputan akan ada setiap satu jam sekali ke resort atau dari dan ke pantai Ao Nang. Penjemputan terakhir dari pantai Ao Nang jam 10.00 malam.

Setelah istirahat sebentar di resort akhirnya kami menuju ke pantai Ao Nang untuk melihat matahari terbenam pertama setelah musim penghujan. Musim di Thailand berbanding terbalik dengan Indonesia. Sebenarnya kita bisa sewa motor, tetapi karena  lumayan mahal sewa motornya yaitu 200THB sehingga kami urungkan terlebih kita hanya sebentar sewanya.

Sesaat sebelum matahari terbenam

Wisatawan yang sedang foto matahari terbanam

Matahari terbenam diantara dedaunan

Pelangi disaat matahari terbenam

Matahari terbenam pertama yang sempurna di pantai Ao Nang setelah musim penghujan.

Liburan kali ini sebenarnya kami memang merencanakan untuk begadang sehingga di Ao Nang pun kami menikmati kehidupan malam sampai pagi dan di resort hanya untuk ganti pakaian.

Jajanan kaki lima Ao Nang

Jajanan kaki lima Ao Nang

Alat transportasi umum di Ao Nang

Wisatawan yang sedang mengabadikan layangan terbang dari kertas yang di hias gambar hati di pinggir pantai Ao Nang


Sebenarnya resort yang kami pilih lumayan lengkap fasilitasnya karena ada gym dan kolam renang, karena liburannya singkat sehingga tidak bisa begitu menikmati fasilitas tersebut. 

Kolam renang di resort

Terkadang liburan itu harus ada waktu untuk menyendiri seperti ini tanpa ada orang yang mengenal kita.

Di depan meja resepsionis resort

Hammock di depan meja resepsionis

Restaurant dan paket tour

Kamar yang kami gunakan hanya untuk ganti pakaian

Panorama di luar resort

Panorama di belakang kolam renang


Sebelum pisah sama Djazell ketika ikut tur, kami sudah ada janjian menikmati Ao Nang pagi harinya sebelum pulang ke Indonesia. Djazell orangnya sangat menyenangkan dan memiliki pribadi yang hangat.
Dan kami bercerita lama tentang politik Amerika ketika pemerintahan Obama berhenti. 


Karena sudah cukup siang juga akhirnya kami berpamitan sama Djazell untuk pulang ke Indonesia sedangkan Djazell masih lama tinggal di Thailand karena akan pulang ke Amerika di bulan Maret 2014.

Untuk menuju ke bandara kami menggunakan taxi lagi karena akan meminta sopir untuk berhenti di toko souvenir khas Krabi,dengan biayayang  masih sama 600THB.

Dalam perjalanan wisata itu pasti akan menemukan orang baru dengan cerita yang berbeda seperti halnya yang kami alami di Thailand. Sampai ketemu di Bangkok New, dan saya tunggu kedatangan Djazell ke Indonesia.

Biaya :
Tiket pesawat + hotel : Rp 980.000
Uang Saku                 : 3000THB atau Rp 1.140.000
Total                          : Rp. 2.120.000













Senin, 28 Oktober 2013

14 Jam di Kuala Lumpur

Perjalanan wisata dengan waktu yang singkat bisa membuat kita menjadi orang yang bisa menghargai waktu karena adanya keterbatasan waktu tersebut. Itu juga yang kami alami ketika menjelajahi Kuala Lumpur hanya dengan 14 jam.

Dalam perjalanan ini kami memanfaatkan tiket promo dari airasia yang sudah saya beli 8 bulan sebelum keberangkatan sehingga bisa mendapatkan harga murah tentunya. Pergi keluar negeri pertama kali sungguh membuat kita harus memepersiapkan mental apalagi liburan yang tidak ikut tour paket. Sehingga kita harus memepersiapkan segala sesuatunya sendiri seperti transportasi, obyek wisata yang akan kita kunjungi dan tentunya hotel yang sesuai dengan keuangan dan minat kita.

Kami memilih Malaysia karena adanya transportasi yang mudah jika menginginkan untuk mengunjungi obyek wisata yang masih di sekitaran wilayah Kuala Lumpur yang terpusat di KL Sentral. Dan tentunya jika kita menginginkan melanjutkan perjalanana ke negara lain seperti kami sangat dipermudah karena pesawat Airasia dari Kuala Lumpur memiliki banyak penerbangan seperti Krabi yang merupakan salah satu provinsi di Thailand Selatan yang akan menjadi tujuan kami selanjutnya setelah 14 jam keliling Kuala Lumpur.

Tanggal 28 Oktober adalah hari dimana memulai perjalanan, kami berangkat dari rumah menggunakan motor dan parkir inap di bandara, sehingga mengurangi biaya untuk taksi. Karena ini adalah perjalanan luar negeri pertama bagi saya sehingga pas cek paspor petugas dari imigrasi menanyakan kenapa mau pergi ke Malaysia dan kenapa baru terbang apakah membatalkan penerbangan tahun kemarin. Untuk temen saya tidak ada pertanyaan karena ini kali kedua melakukan perjalanan keluar negeri.

Lama penerbangan dari bandara terminal 3 Soekarno Hatta ke LCCT yang merupakan bandara untuk biaya murah di KLIA adalah 2 jam. Setelah tiba di LCCT pas di pengecekkan paspor di imigrasi Malaysia tidak ada kendala hanya di tanya apakah ini kali pertama ke Malaysia. Karena kami tidak ada rencana menginap di Kuala Lumpur sehingga tas dan koper di titipkan di penitipan bagasi yang ada di sebelah kanan pas kita turun dari tangga keluar bandara dengan counter berwarna cat kuning. Dari LCCT ke KL Sentral kami sudah membeli tiket Sky Bus yang kami beli berbarengan dengan tiket pesawat karena lebih murah dan juga memudahkan kami yang baru pertama ke Kuala Lumpur.

Tujuan wisata pertama kami adalah ke Batu Caves yang merupakan tempat ibadah agama Hindu yang berada di atas gunung karst. Untuk menuju kesana kami menggunakan kereta komuter dengan harga tiket 1RM bagi dewasa dengan lama perjalanan kurang dari 1 jam. Ketika kami kesana cuaca sangat tidak mendukung karena gerimis sehingga pengunjung tidak terlalu banyak tetapi itu sangat menguntungkan bagi yang suka fotografi karena tidak terganggu dengan adanya lalu lalang wisatawan di sekitaran patung dewa. Untuk menuju ke gua, terlebih dahulu kita harus menaiki anak tangga yang lumayan banyak dan terkadang ada monyet yang muncul di anak tangga sambil mencari makanan. Kenapa kami memilih ke Batu caves di sore hari karena kami ingin ambil foto pas matahari tenggelam dari ketinggian dengan latar belakang kota dan gunung tetapi karena gerimis sehingga kami tidak mendapatkan moment tersebut. Setelah puas mengelilingi Batu Caves dan foto-foto, tujuan wisata kami selanjutnya adalah ke KLCC yang merupakan ikon dari Malaysia. Tetapi terlebih dahulu kami harus kembali ke KL Sentral, untuk harga tiket dari Batu Caves ke KL Sentral naik 50 sen menjadi 1.50RM. Setiap sampai di stasiun tujuan, kita harus menyerahkan tiket yang merupakan alat untuk membuka portal pintu ketika akan masuk ke peron sebagai bukti jika kita bukan penumpang ilegal karena jika kita tidak ada tiket tersebut akan dikenai denda 30RM.








Dari KL Sentral ke KLLC hanya memerlukan waktu 30 menit dan untuk tiket keretanya kita harus menukar uang menjadi token karena kami belum pernah menggunkan alat tersebut sebelumnya sehingga kamipun terlebih dahulu melihat cara warga Malaysia dalam menggunkan alat tersebut. Karena harga tiket dari KL Sentral ke KLCC 1.60RM sehingga kita harus menukar koin sen terlebih dahulu di kasir yang telah di sediakan. Dan peraturannya masih tetap sama jika kita menuju ke peron kita harus menempelkan token diatas alat untuk membuka palang pintu dan setelah sampai di stasiun tujuan token harus dikembalikan. Sebenarnya tujuan kami ke KLCC adalah bertemu dengan Tia yang merupakan teman dari teman saya yang kuliah di UMN. Tetapi karena sampai di KLCC tower sudah terlalu malam sehingga Tia membatalkan karena besok ada ujian sehingga harus belajar. Sedikit kecewa sih karena demi kebaikan Tia kami pun akhirnya mengikhlaskan.


Sebelum ke KLCC sebenarnya kami makan dulu di kedai makanan yang seperti food court yang ada di Indonesia. Karena baru sempat makan. Makanan yang kami pilih adalah nasi briyayi dengan harga 8.60RM dan minumnya lemon tea dengan harga 2.30RM. Dengan harga yang tidak terlalu mahal tetapi cukup mengenyangkan pastinya.

Setelah dari KLCC kami melakukan perjalanan jalan kaki mengelilingi Kuala Lumpur dari KLCC menuju ke KL Sentral sehingga perjalanan ini penuh dengan petualangan yang sebenarnya. Karena dengan melakukan jalan kaki kami bisa berinteraksi dengan warga Malaysia jika ingin menanyakan jalan. Walaupun terkadang warga lokal tidak tahu jalan dan malahan ada satpam dari stasiun MRT yang sebelum saya bertanya dia langsung menutup pintu masuk ke stasiun. Melakukan perjalanna malam di Kuala Lumpur sungguh sepi dan di depan gedung perkantoran tidak ada satpam sehingga kami pun agak kesusahan untuk menanyakan jalan.Walaupun berbekal peta yang di beri oleh teman wisatawan dari Medan tetap saja tidak membantu karena setiap bertanya ke warga lokal pasti salah jalan. Dan akhirnya kamipun mengunakan taksi untuk menuju ke KL Sentral karena waktu sudah cukup malam dan kami harus segera sampai di KL Sentral untuk naik Sky Bus yang pertama menuju LCCT supaya tidak ketinggalan pesawat menuju ke Krabi. Tetapi sebelumnya kami makan terlebih dahulu di Mc Donalds yang berada di KL Sentral. 



Taksi di Kuala Lumpur tidak menggunakan argo tetapi kita di patok harganya dan kami kena biaya 15 RM. 
Walaupun begitu kami sudah sempat ke bebagai tujuan wisata yang ada di Kuala Lumpur seperti Hard Rock Cafe, Pettaling Street, Masjid Jamek dan Pasar Rakyat dan KL Tower dengan waktu 14 Jam.








Tetapi perjalanan ini sangat bermakna karena dimanapun kita berada disitulah kita akan membutuhkan keberadaan orang lain.

Biaya perjalanan :
Harga tiket promo Airasia : Rp 450.000 (1 orang)
Airport Tax Soeta             : Rp 150.000
Biaya Akomodasi             : Rp 354.000 (100 RM)
Total Biaya                       : Rp 954.000
Foto diambil menggunakan kamera Olympus EPL-1, Xperia SP dan Samsung Note 1

Bersambung............