Bali Timur

Memilih penerbangan terakhir dari Jakarta menuju ke Bali sebenarnya sangatlah beresiko apalagi jika kita tidak mempunyai kenalan ataupun tidak ada rencana untuk mencari penginapan di sekitar bandara. Tetapi jika kita berwisata seorang diri bisa lain cerita karena kita bisa menikmati malam di sekitar Legian yang memang buka sampai subuh hiburan malamnya. Dunia malan di Legian masih sama seperti 4 tahun yang lalu ketika pertama kali ke Bali. Untuk mencapai Legian banyak alternatif untuk menuju kesana, tetapi untuk lebih murah bisa menggunakan ojek online ataupun ojek yang ada di bandara karena hanya di tempuh berkisar 20 menit. Biaya ojek waktu itu hanya Rp 30,000 sesudah ditawar, jika menggunakan ojek online mungkin hanya setengah dari harga ojek bandara. 



Alasan memilih penerbangan terakhir adalah sebagai karyawan kita harus bisa memanfaatkan cuti tetapi sebisa mungkin liburan sedikit lebih lama. Maka dengan itu saya pastinya sudah mempersiapkan transportasi apa yang akan dipilih menuju Timur Bali, apalagi perjalanan yang akan ditempuh mamakan waktu kurang lebih 1.5 jam dari Kuta. Sebelumnya pasti kita akan memilih menyewa mobil dari Kuta ke Candidasa supaya lebih cepat, ternyata ada alternatif transportasi yang lebih murah yaitu dengan memesan dari http://www.peramatour.com/Daily-Bali-Lombok-Shuttle-Bus-Boat.html. Jika kita menyewa mobil  bisa mengeluarkan biaya Rp 400,000 sekali jalan tetapi dengan memesan di Perama Tour hanya Rp 130.000 dan mendapatkan diskon Rp 10,000 jika memesan pulang pergi. Untuk yang langsung ke Candidasa kita harus memesan bus yang berangkat 07.00 pagi waktu Bali, karena ada juga bus yang melalui Ubud tetapi waktu perjalanan yang akan di tempuh hampir 3 jam.

Bagi sebagian wisatawan Indonesia Bali bagian timur mungkin asing jika tidak menyukai olahraga menyelam dan bertanya obyek wisata apa saja yang bisa di jumpai?. Tetapi jika ingin mendapatkan homestay murah dan memiliki pantai sendiri bisa menjadi alternatif apalagi di Candidasa juga banyak obyek wisata sejarah peninggalan dari Kerajaan Karangasem. Sebenarnya ada sedikit kesalah pahaman antara saya dengan staff homestay perihal pemesanan kamar yang melalui email. Jadi saran saya jika memesan melalui email harus sudah benar-benar terpesan kamarnya dan bisa juga dipastikan dengan telepon ke homestay tersebut terlebih dahulu untuk konfirmasi pesanan. Karena sangat berbeda jika kita pesan lewat agen tour karena kita tidak perlu konfirmasi ke hotel lagi.

Banyak pilihan homestay ataupun hotel berbintang di daerah Candidasa tetapi harga dan fasilitas ataupun pemandangan yang menjadi acuannya. Saya memilih Ida's Homestay untuk menginap selama di Bali bagian timur yang beralamat di Jl. Raya Candidasa dan terletak di sebelah kanan jalan jika kita dari arah Kuta dan bersebelahan dengan The Natia yang waktu itu sedang dilakukan renovasi dan bersebelahan juga dengan Klapa Mas Homestay. Pemilik dari Ida's Homestay adalah warga negara Jerman yang menikah dengan warga Bali dan sangat suka dengan barang - barang antik sehingga homestay banyak di penuhi dengan koleksinya. 

Memiliki 6 bungalow dan 1 bale jenang membuat homestay sangat tenang dan tidak berisik seperti homestay yang lain. Fasilitas dari homestay adalah tempat berjemur dan buku-buku yang di tempatkan di rak yang berada di dapurnya. Untuk koleksi bukunya mungkin tidak ada yang berbahasa Indonesia karena tamunya juga kebanyakan dari Eropa. Dan saya adalah tamu lokal sendiri. 

Karena ada kesalahpahaman tersebut ternyata homestay penuh dan hanya ada bale jenang yang tersisa. Apa itu bale jenang, bale jenang adalah tempat penyimpanan beras pada masa lampau tetapi di Ida's diperuntukan untuk tamu yang tidak mendapatkan bungalow. Nilai positif dari liburan sendirian adalah kita bisa mengambil keputusan tanpa minta pendapat dari orang lain, sehingga saya putuskan untuk satu malam menginap di bale jenang meskipun kalau malam gelap karena tidak ada saluran listriknya dan tidak ada kamar mandinya tetapi ada baiknya daripada harus mencari homestay lain. Yang unik dari homestay ini adalah bungalow yang terbuat dari kayu dan bambu serta beratap daun alang-alang kering sehingga kesan alaminya sangat menonjol dan ada satu ekor sapi yang setiap hari berada di kebun kelapa. Dan jika malam tiba di homestay sangat gelap karena memang di tengahnya adalah taman yang dipenuhi pohon kelapa dan yang terdengar hanya suara gemuruh ombak tetapi ada juga tamu asing yang bercengkrama di sun deck sambil bermain kartu dan minum. Homestay sangat cocok untuk liburan santai karena fasilitas di bungalow tidak ada AC tetapi ada kipas angin dan tidak ada TV tetapi koneksi wifi ada. Meskipun tidak ada AC tetapi udara pagi hari di homestay sangat dingin dan sejuk.



Bale Jenang untuk menginap di malam petama

Bungalow menginap malam kedua


Sunset dari sundeck


Banyak alasan untuk memilih homestay ini seperti lokasinya yang berada di pinggir jalan raya, ATM dan minimarket yang dekat, tempat membeli oleh-oleh dan pastinya untuk wisatawan muslim masjid terdekat berada di desa Buitan berjarak 2 km dari homestay ke arah Padangbai meskipun tidak berada di pinggir jalan tetapi bisa terlihat dari jalan raya.

Untuk keliling di Candidasa keesokan harinya saya menyewa mobil termasuk supir di http://www.petaksaritour.com/fullday.html. Bli I Gede Adi Artama adalah pemandu dan sopir yang baik dan berpengalaman di bidang pariwisata serta memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik. Dan pastinya tur lebih menyenangkan karena di jemput sesuai dengan jam yang bisa kita tentukan sendiri tetapi untuk tur sudah di atur olehnya. 

Tempat yang pertama dituju adalah desa adat Tenganan yang merupakan salah satu dari 3 desa Bali Aga yaitu desa yang masih mempertahankan cara hidup leluhurnya. Desa adat Tenganan di bagi menjadi dua yaitu Pegringsingan dan Tukad. Tetapi saya memilih Pegringsingan karena lebih sepi dan tempatnya seperti yang di foto-foto.





Sebenarnya tidak banyak yang bisa di jelajahi di desa adat ini tetapi kita bisa kerumah bapak Ni Wayan yang akan menunjukan keahliannya membaca tulisan di daun lontar yang menggunakan bahasa Sansekerta.



Untuk wisatawan yang ingin membeli cinderamata tinggal masuk kerumah penduduk karena memang di jajakan di teras rumahnya meskipun tidak semua rumah menjajakan dagangan. Kerajinan yang di jajakan antara lain, kain khas Bali dan kerajinan tangan yang dibuat oleh penduduk lokal.





Penduduk disinipun sangat terbuka jika ada wisatawan ingin masuk untuk sekedar melihat bentuk bangunan dan terasnya. Banyak pengetahuan yang bisa di dapat dari tour ke salah satu desa Bali Aga yang ternyata adalah jika ada seseorang yang meninggal tidak ada acara Ngaben seperti umat Hindu di Bali pada umumnya tetapi akan di kubur. Karena umat Hindu yang ada upacara Ngaben adalah masyarakat pendatang bukan dari Bali asli nenek moyangnya. Untuk masuk ke desa adat Tenganan kita ada donasi seikhlasnya.





Jika kita tidak suka berbelanja cinderamata mungkin waktu yang dibutuhkna untuk keliling hanya 30 menit. Pelayanan dari www.petaksaritour.com sangat memuaskan karena kita dibebaskan ketika sampai di tempat tujuan dan tidak dibatasi oleh waktu yang telah di tentukan. 

Tujuan berikutnya adalah Taman Air Tirta Gangga dengan tiket masuk Rp 20,000 perorang, sebenarnya jika kita kurang suka fotografi tidak disarankan karena memang hanya taman yang di tengahnya ada kolam ikan. Jadi 20 menit aja kita sudah selesai mengeliling tamannya.


Water Plaace atau yang biasa di sebut Taman Ujung Soekasada adalah tempat yang sesuai untuk peristirahatan bagi keluarga kerajaan pada masanya karena dengan pemandangan yang indah jika sudah sampai di bagian atasnya. Kita bisa melihat pegunungan dan laut di kejauhan dan ada juga persawahan. Untuk masuk ke Taman Ujung ada retribusi tiket Rp 10,000.









Disini juga sering dijadikan lokasi foto pre wedding karena pemandangannya yang indah meskipun kita harus menaiki tangga yang lumayan tinggi, tapi akan terbayar oleh pemandangan dan foto yang bagus. Dan bisa juga buat lokasi resepsi pernikahan.

Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa di desa Jasri ada industri coklat rumahan yaitu Uforia Chocolate dan Charly's Chocolate. Yang membedakannya adalah varian rasa dan tempat pembuatannya. Harga di Uforia Chocolate untuk coklat bar Rp 34,000 dan untuk coklat yang ada kandungan creamnya Rp 10,000 perbutir. Untuk Charly's hampir sama harganya hanya saja tamu yang datang kebanyakan wisatawan lokal, sedangkan Uforia wisatawan mancanegara dan untuk masuk ke area Charly's Chocolate ada retribusi Rp 10,000 karena melewati kebun milik warga.



Uforia Chocolate Factory

Charly's Chocolate Factory 

Di Karangasem ada pantai yang sangat terkenal dan lokasinya lumayan sedikit mengeluarkan tenaga untuk menuju pantainya karena jalannya sedikit menurun dan belum beraspal. Dengan retribusi Rp 10,000 setiap pengunjung semoga jalan menuju pantai bisa dibuat lebih bagus seperti jalan untuk keluar dari area parkir. Tetapi jika ingin santai dan berenang sangat cocok karena ombaknya tidak begitu besar dan pantainya yang landai dengan pasir putih. Biasanya di sebut Virgin Beach atau Pantai Prasi. Sebenarnya Bli I Gede membebaskan saya untuk menikmati pantai lebih lama tetapi karena di homestay saja bisa puas berjemur dan berenang apalagi dengan cuaca sangat panas saya urungkan untuk bersantai di pantai Prasi. 


Setelah tur selesai Bli I Gede menanyakan dimana saya akan di drop, karena saya ingin bersantai dan menikmati sore hari. Maka saya memilih Amankila Resort yang berada di Desa Buitan Manggis untuk bersantai sejenak di Pool Barnya. Setelah puas menikmati suasana di Amankila saya telepon Bli I Gede untuk di jemput pulang ke homestay.




Sebenarnya jika ingin menghemat biaya akomodasi kita bisa menginap hanya semalam saja karena tur tidak terlalu cape, hanya di Taman Ujung dan Pantai Prasi saja sedikit menguras tenaga. Tetapi jika ingin bersantai, 3 malam mungkin cukup. Untuk makanan Halal saya menyarankan beli roti ataupun buah dan mungkin kalau malam bisa beli martabak di depan minimarket dan ternyata penjulanya dari Lebaksiu dekat sama kampung halaman saya. Untuk harga kamar di Ida's Homestay sangat murah di kisaran Rp 120.000++ untuk Bale Jenang dan Rp 220.000++ untuk bungalow atau kontak langsung dengan Bli Arga ke (0363) 41096.

Melakukan perjalanan liburan sendirian banyak manfaatnya karena kita secara tidak langsung akan mencoba mencari cara untuk bisa berbincang dengan orang lain tanpa mengenal sebelumnya dan berasal dari mana. Karena dengan berkomunikasi bisa membuat suasana jadi hidup. Saya banyak berkenalan dengan wisatawan lokal maupun negara Eropa yang mempunyai cara yang beragam dalam menikmati liburan. Dan pastinya jika ingin menyewa mobil beserta pemandu wisata bisa kontak http://www.petaksaritour.com/ untuk informasi lebih lanjut. 

Lakukan yang bisa dilakukan sendiri, percaya dengan kemampuan dan pertolongan Tuhan.
















Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Singkat Mengenal Bangkok dan Pattaya

2 hari 1 malam di Krabi

Skye Menara BCA